HIKMAH DIBALIK BENCANA BANJIR KECAMATAN BANTARASARI, MENGUATNYA SEMANGAT GOTONG ROYONG DAN KEBERSAMAAN

Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bantarsari dua hari berturut turut Senin s/d Selasa tanggal 16-17 Nopember 2020 sejak pukul 19.30 sampai mengakibatkan banjir yang cukup besar diseluruh desa di wilayah Kecamatan Bantarsari, bahkan untuk desa desa yang berada di ketinggian seperti Desa Citembong dan Desa Kedungwadas pun tidak luput dari genagnagn air yang ditimbulkan karena jebolnya tanggul sungai Kedungwadas.. Air menggenangi pekarangan dan pemukiman warga di wilayah Desa Citembong, Kedungwadas dan Cikedondong dirasakan masyarakat sejak sekitar pukul 02.00 WIB . Di Desa Citembong menimbulkan longsoran tanah dan tebing jalan, sementara di Desa Kedungwadas ada berapa titik tanah longsor yang menimbulkan putusnya jalan penghubung antar dusun dan menimpa rumah warga. Di Desa Cikedondong kondisinya lebih parah lagi dan menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat, tercatat sementara tidak kurang dari 80 ekor Kambing dan 2 ekor sapi milik warga yang mati karena terendam air atau pun hilang terbawa arus yang cukup besar, belum lagi kerugian yang berupa kerusakan lahan pertanian,   serta sementara terdata sekitar 10 rumah rusak parah sebagian ada yang rata dengan tanah, serta barang barang perabotan yang rusak dan hilang. Karena kejadian dimalam hari sehingga masyarakat tidak dapat sepenuhnya menyelamatkan harta benda miliknya.

Sambil menungu datangnya siang warga bahu membahu mengungsi ke dataran, atau kerumah sanak saudara yang dia anggap aman, dan ada juga beberapa warga yang memilih bertahan di atap rumah sendiri guna menjaga harat bendanya.

Yang lebih mengenaskan lagi bagi warga Desa Cikedondong dimana paket sembako Bantuan Pangan Non Tunai JPS dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang disimpan di Balai Desa, dan sedianya akan dibagikan pada Hari Selasa tanggal 17 Nopember 2020, ikut terendam sehingga berasnya tidak layak untuk dibagikan. Perlu kami sampaikan juga bahwa Balai Desa Cikedondong pun tidak luput dari terjangan air yang menimbulkan kerusakan peralatan dan dokumen yang ada di lantai bawah.

Sementaraitu di wilayah Kecamatan Bantarsari bagian bawah meliputi Desa Kamulyan Desa Bulaksari Desa Bantarsari dan Desa Rawajaya banjir mulai dirasakan sekitar pukul 4.00, menimbulkan kerusakan yang cukup parah dengan genangan air mencapai satu meter lebih di pemukiman.

Tidak kurang dari dua puluh titik tanggul sungai Cimeneng  yang jebol diterjang derasnya air dengan panjang yang beragam. Kerusakan tanggul paling panjang berada pada titik dusun Mulyadadi Desa Kamulyan dengan perkiraan panjang sampai seratus meter.

Dengan jebolnya tanggul sungai Cimeneng tersebut semakin memperparah keadaan. Dari informasi yang dihimpun sampai saat ini rumah yang tergenang sebanyak 5.049 Kepala Keluarga dengan jumlah jiwa 20.773 orang dengan perincian sebagai berikut  Desa Kedungwadas  255 KK 737 Jiwa, Desa Cikedondong 630 KK 2.460 Jiwa, Desa Kamulyan 375 KK 2.980 Jiwa, Desa Bulaksari 1.849 KK 7.366 Jiwa Desa Bantarsari 1.079 KK 4.291 Jiwa dan Desa Rawajaya 741 KK 2.939 Jiwa.

Karena derasnya air yang membawa material sampah berupa kayu dan pepohonan yang tumbuh di sepanjang tanggul atau bantaran sungai juga merusak infrastruktur lainya, seperti material berupa rumpun bambu yang sempat menghantam jembatan Sitinggil dan membuat panik para penduduk yang berada di atas jembatan karena merasakan adanya goncangan . Dilain tempat, jembatan gantung penghubung Dusun Bulureja Desa Bantarsari dan Dusun Rawasari Desa Rawajaya terputus akibat terjangan air yang deras.

Jembatan gantung tersebut sebenarnya konsisinya memang sudah cukup memperihatinkan. Selama ini dipelihara dan dirawat secara swadaya dengan tulus ikhlas oleh warga setempat.

Sebenarnya pernah direncanakan pembangunan jembatan gantung yang lebih baik atau dibangun jembatan permanen. Pada tahun 2017 sempat ditinjau langsung oleh Gubrnur Jawa Tengah yang waktu itu dijabat oleh Bapak Ganjar Pranowo dan sekarang menjabat untuk periode kedua pernah merencanakan pebangunan jembatan gantung tersebut agar lebih layak, namun karena bencana banjir akhirnya masyarakat hanya bisa memandang ketika jembatan tersebut  diterjang air.

Selain rusaknya jembatan banjir juga mengakibatkan  matinya jaringan listrik dan internet sehingga komunikasi juga terhambat, bahkan di ruas jalan Bantarsari – Panikel terdapat  tiga tiang listrik yang roboh

Menghadapi bencana tersebut masyarakat secara bahu membahu bersama pemeritah setempat dan oragisasi masyarakat yang ada mencoba mengupayakan berbagai pertolongan kepada warga masyarakat yang terdampak .

Aparat pemerintah desa dan kecamatan setempat juga cukup sigap dalam berkoordinasi dengan dinas instansi dan elemen masyarakat yang ada  sehingga bantuan segera datang baik berupa  tenaga, perlengkapan evakuasi, bahan makanan maupun makanan siap saji, sampai berita ini di turunkan berbagai sudah banyak bantuan yang masuk baik dari pemerintah, ormas, pengusaha ataupun pribadi dan setiap bantuan yang masuk ke posko induk di Pendopo Kecamatan Bantarsari,  langsung di distribusikan ke posko posko dan dapur umum di titik titik bencana. Tercatat ada 10 posko ataupun dapur umum yang ada guna membantu mendistribusikan bantuan atau memberika pertolongan dini.

Menurut catatan sejarah dan cerita para penduduk banjir tahun ini merupakan yang terparah sejak berdirinya Kecamatan Bantarsari. Walaupun duka menyelimuti masyarakat secara umum, justru jika dilihat dari sisi lain disinilah masyarakat menunjukan persatuan dan kesatuan yang sebenarnya sebagai bangsa Indonesia bukan sekedar selogan.

<<<bbgtry>>>